Review Film The Favourite: Disingkirkan Atau Menyingkirkan

Review Film The Favourite: Disingkirkan Atau Menyingkirkan

salah satu adegan di the favourite, review the favourite

Review Film The Favourite – The Favourite menjadi salah satu dari sekian film favorit saya di tahun 2019 walaupun sebenernya rilis pertamanya di akhir 2018. Tak bisa dipungkiri saya selalu menyukai cara bermain Yorgos Lanthimos. Tapi kita tidak akan membicarakan semua filmnya lanthimos di sini. Ini semua tentang The Favourite yang mana film ini meramaikan nominasi-nominasi Oscar 2019. Total 10 nominasi didapatkan film ini pada Academy Awards tahun tersebut.

Film ini menceritakan apa yang terjadi di dalam istana Ratu Inggris Anne pada masa perang melawan Prancis. Berlatar abad ke-18, The Favourite berhasil membawa penonton menyaksikan dan merasakan nuansa istana kerajaan saat itu.

Bukan Yorgos Lanthimos namanya kalo tidak membawa unsur-unsur unik dan beda yang selanjutnya akan kita bahas. Hal pembeda dari film-film Lanthimos biasanya adalah tidak adanya kekuatan magis seperti di The Lobster dan The Killing of A Sacred Deer atau bizzare fantasy selayaknya di Dogtooth.

Sinopsi Film The Favourite

Sebelum masuk ke bahasan, mari kita segarkan ingatan kita mengenai cerita di film ini. kita ketahui di awal bahwa Ratu Inggris bernama anne memiliki seorang tangan kanan kepercayaan bernama Sarah. Sarah sangat berperan dalam istana, ia kerap sibuk mengerjakan tugas dan pekerjaannya.

Di sisi lain Ratu Anne hanya berperan sebagai penetap keputusan-keputusan akhir atas saran dan masukkan dari pihak petahana dan oposisi. Sudah pasti Sarah The Lady of Marlborough juga mempengaruhi keputusan yang diambil Ratu bahkan sangat mempengaruhi. Hal itu jelas terjadi karena dia memang penasihat Ratu Anne, juga dia memiliki peran spesial sebagai kekasih Sang Ratu.

Suatu ketika datang seorang wanita bernama Abigail yang mengaku kerabat dari Sarah dan meminta pekerjaan di istana. Awalnya Abigail hanya dijadikan pekerja budak di dapur istana. Pintar beradaptasi dan mengambil hati seseorang, Abigail mendapatkan hati Sang Ratu. Abigail mengintip celah yang bisa ia manfaatkan supaya bisa menjadi bangsawan kembali.

Ratu Anne pun merasakan kenyamanan dengan Abigail sehingga ia diminta untuk menemani dan bekerja langsung untuk Ratu Anne. Kecemburuan tumbuh dalam benak Sarah. Dari sini dimulailah perang dingin memperebutkan hati Sang Ratu. Bisa dibilang judul The Favourite dapat kita maknai sebagai perlombaan menjadi yang terfavorit bagi Ratu Anne.

Olivia Colman Sangat Hebat di The Favourite

Banyak unsur politik di film ini, tapi Yorgos Lanthimos tidak lupa untuk tetap mengangkat drama dengan beberapa nuansa komedi dan romantisnya. The Favourite semakin tajam dengan 3 aktris yang bermain baik di sini. Mereka tak ubahnya bak trisula yang masing-masing menempatkan mata tombaknya.

Baca Juga: 20 Film Produksi A24 Ini Bisa Menghiburmu Pada Natal

Mata tombak itu adalah Emma stone, olivia colman, dan Rachel Weisz. Tapi trisula yang saya bayangkan di sini adalah trisula yang memiliki mata tombak tengah lebih panjang. Bagian itu dimiliki oleh Olivia Colman yang memerankan Ratu Anne. Olivia Colman secara tidak terduga bermain begitu dalam. Terlihat bahkan terasa aura manja kekanakan serta impulsif sebagaimana layaknya ratu yang ceroboh.

Emma Stone dan Olivia Colman di 'The Favourite' | review the favourite
Emma Stone dan Olivia Colman di ‘The Favourite’

Kalau untuk Rachel Weisz perannya sangat cocok menampilkan sifat kaku dan kasar. Rachel Weisz dan Olivia Colman nampaknya sudah menjadi ‘The Favourite’ bagi Yorgos Lanthimos selayaknya Colin Farrell. Untuk Emma Stone saya masih suka performanya di Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance).

Hal lain yang saya sukai adalah permainan politik di dalamnya. Bagaimana pihak oposisi dan petahana saling berusaha mencapai kepentingannya masing-masing sampai menggunakan cara-cara liciknya. Yorgos Lanthimos juga dengan rapih menunjukkan bahwa dalam politik musuh bisa menjadi teman dan sang kepercayaan bisa menjadi lawan.

Bumbu romansa antara Anne dengan Sarah yang sedikit diganggu oleh Abigail menambah rasa penasaran akan ending dari film ini. Cinta segitiga ini pastinya akan menimbulkan banyak pertanyaan. Mana yang sebenarnya benar-benar mencintai dan mana yang cuma jadi benalu?

Jangan lupakan gejolak dalam diri Ratu Anne, sikapnya yang seperti itu punya alasan jelas. Anne merasakan kesedihan atas kehilangan 17 anaknya, tekanan sebagai ratu, dan butuhnya perhatian murni kepada dia. Menjadi ratu justru membuat dia tidak tahu mana yang benar-benar peduli kepadanya.

Baru sampai di pertengahan film saya semakin penasaran, apa yang akan terjadi? siapa yang akan menang? apakah nanti ada yang mati? perasaan ini sama halnya datang ketika saya menonton jawara Oscar kemarin Parasite.

Desain Produksi Seluar Biasa ‘The Two Popes’

Di awal sempat saya katakan bahwa The Favourite berhasil membawa penontonnya merasakan nuansa Istana Ratu Inggris abad 18. Hal ini bisa terjadi karena set desain dan art dari The Favourite yang tidak main-main. Saya begitu kagum bahwa tak ada CGI untuk latar istana Inggris ini. Set desain yang setara hebatnya dengan apa yang dilakukan oleh desain produksi The Two Popes.

Lensa ultra wide sampai jadi fish eye semakin membuktikan bahwa semua latar ini benar nyata dan praktikal. Apresiasi patut diberikan untuk Fiona Crombie sebagai production designer. Sayang Fiona Crombie kalah saing dengan desain produksi Black Panther pada Oscar kala itu.

Baca Juga: Sinopsis Alice In Borderland, Permainan Maut dalam Dunia Paralel, Tayang Desember Ini!

Itu juga yang membuat sinematografi film ini terbilang unik. Efek distorsi macam ini sejatinya sudah sering dipakai di banyak film. Tapi the favourite sangat berani menampilkan beberapa gambar sangat cembung dari lensa “fish eye”-nya itu, mungkin agar latar indahnya dapat terlihat semua.

Hal ini ditegaskan kembali oleh Lanthimos melalui indiewire, bahwa dirinya sangat mendorong sinematografer Robbie Ryan untuk menggunakan lensa tersebut karena arsitektur ruangan-ruangan di kastil ini. Ada juga beberapa gambar yang diambil slow motion, terlihat bak lukisan-lukisan bergaya romantisme. Dapat dilihat pada saat scene lomba balap angsa. Salah satu kandidat kuat untuk memenangi best cinematography di Oscar, sayang Alfonso Cuarón dengan ‘Roma’-nya terlalu superior.

Rachel Weisz sebagai Sarah dan Olivia Colman sebagai Ratu Anne, review the favourite
Rachel Weisz sebagai Sarah dan Olivia Colman sebagai Ratu Anne

Melalui The Favourite, simpati saya terombang-ambing ke mana-mana. Di awal film, simpati saya terbentuk jelas pada satu orang. Masuk ke pertengahan, simpati saya berpindah ke orang lain yang mana tidak akan saya beri tahu siapanya takut membangun spoiler. Di akhir film pun kembali berganti lagi.

Hal tersebut menunjukkan bahwa tiga karakter tersebut mempunyai back story masing-masing yang jelas dengan dasar yang kuat. Semuanya punya visi dan misi masing-masing. Latar belakang ketiganya membangun unsur sebab akibat yang menjembatani premis film ini.

Dengan semua kekuatannya, wajar kalo The Favourite menjadi si favorit di Academy Awards 2019 bersanding dengan Roma. Walaupun begitu dari sekian banyak nominasi hanya satu yang meraih penghargaan di situ, yaitu best actress yang dinobatkan kepada Olivia Colman. Itu memang sangat pantas. Dari Himpoon kami beri rating tinggi untuk The Favourite, dengan nilai 9 dalam skala 10.

Baca Juga: Review Film No Country For Old Men: Psikopat Terseram Sejauh Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *